Seberapa pengaruhnya privilege untuk seseorang?

Seberapa pengaruhnya privilege?
Pendekatan dengan Network Science

Oleh: Irwansyah Saputra – Mahasiswa PhD Computer Science, Bidang Kajian Computational Intelligence and Optimization

Lagi rame stafsus presiden yang ngisi seminar sukses bisnis di usia muda. Banyak orang yang skeptis dari penjelasannya, karena memang ia adalah anak dari konglomerat. Jadi, ketika ia bilang pernah rugi 800 juta, menurut netizen uang segitu ga ada apa2nya dibandingkan dengan kekayaannya. Netizen menyayangkan orang tersebut ga mau jujur hak privilage yang dia miliki dari keluarga besarnya. Jadi ada masalah penelitian yang bisa dibuktikan, apakah privilage itu berpengaruh pada diri seseorang ataukah tidak (artinya, usaha sendiri)? Untuk menjawabnya, gw mau bahas dari pendekatan Network Science.

Apa itu network science? Ilmu yang bahas tentang jaringan atau graf. Apa itu graf? Sederhananya, kumpulan node (titik) yang dihubungkan oleh garis (edge). Lihat gambar di bawah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan teknik ini. Misalnya, ketika berwisata, kita akan memilih tempat wisata yang berdekatan terlebih dahulu, kemudian baru berangkat ke tempat yang lain. Ini untuk mengefisiensikan waktu dan biaya. Nah, secara ga langsung, otak kita membayangkan graf dan menjadikan tempat wisata tersebut sebagai titik, kemudian menyambungkan antara satu tempat dengan tempat lain dengan garis. Semakin panjang garis dari satu titik ke titik lain, maka semakin jauh jaraknya. Paling sederhana, kita bisa liat contohnya di google maps. Ketika kita mau ke salah satu tempat, titik awal kita itu anggap saja node A, sedangkan titik akhir itu adalah node B. antara kedua node itu ada garis warna biru yang akan menavigasi kita ke tujuan, garis tersebut itu lah yang disebut dengan edge.

Sederhana bukan? Paham kan ya? Lalu apa hubungannya node dan edge tersebut dengan masalah kita? Nah, dalam bukunya Network Science, Albert-László Barabási ada bab tentang small world, atau dunia kecil yang dicetuskan oleh Frigyes Kartinthy (FK). Dalam bab ini, FK bilang kalo dunia ini sebenarnya kecil. Untuk ketemu dengan orang yang bener-bener kita ga kenal, kita cuma butuh 6 derajat. Artinya kita cuma butuh 6 node untuk sampe ke orang tsb, siapapun orangnya, mau itu presiden, pejabat negara, tukang sampah, atau pun yang lainnya.

Dia ngasih contoh, ketika mobil ford miliknya rusak, dia ingin memperbaikinya dengan cepat. Maka dia menghubungi teman baiknya bernama Arpad Pasztor (AP), AP tahun lalu berteman dengan direktur umum Hearst Publications (HP), HP bersahabat dengan Ford, Ford mengenal manajer di bengkel yang punya bawahan seorang pekerja.

Jadi alurnya: FK <-> AP <-> HP <-> Ford <-> Manajer <-> Pekerja. Inilah yang disebut dengan 6 degrees. DIa mengklaim, ketika kita seorang rakyat biasa ingin bertemu dengan presiden, cari 6 degrees yang tepat misalnya, walikota lalu ke gubernur, ke menteri dan seterusnya.

“emangnya gampang datang ke walikota gitu aja untuk minta ketemu presiden?” Nah, dalam kasus FK di atas, dia kenal dengan AP yang kenal dekat dengan direktur umum Ford. AP ini adalah privilege milik FK, yang bisa mendekatkan FK dengan pekerja mobil Ford. Jadi dia memanfaatkan privilege tersebut dan mengakuinya. Transparansi inilah yang memunculkan teori six degrees tersebut. Jadi teori ini tidak mungkin bisa kita pakai jika dalam setiap derajatnya tidak memiliki kekuatan. Misalnya, FK <-> AP <-> Tukang cuanki. Nah Kang cuanki ini ga ada urusan dengan tujuannya si FK. Maka six degrees tidak bisa dilakukan. Semoga paham sampai sini.

Memiliki privelege itu penting. Memanfaatkannya jauh lebih penting. Memanfaatkan privilage menjadi tidak penting, ketika kita tidak memilikinya. Jika tidak punya privilage, maka bangun koneksi agar node diri kita berada dalam jaringan yang mengaitkan banyak orang lagi.

"Setiap orang di planet ini dipisahkan oleh hanya enam orang lainnya. Enam derajat pemisahan. Antara kita dan semua orang di planet ini. Presiden Amerika Serikat. Seorang pendayung gondola di Venesia, Bukan hanya nama-nama besar. Siapa saja.” – John Guare.

Bagi yang mau baca bukunya silakan di sini Network Science by Albert-László Barabási (networksciencebook.com)