Hilang

Seketika ku tersentak dalam diam. Melihatmu kembali setelah lewatnya banyak malam. Aku tetap samar tak menyangka karena suram. Di kejauhan itu memang terbiasa gelap dan kelam.

Hias langit bertabur bintang di malam sabtu. Kau terpancar dalam sedikitnya cahaya rembulan sayu. Bahkan bulan pun berselimut awan karena malu. Sebab cahayamu menjadi rivalnya sepanjang waktu.

Namun aku takut dan trauma. Karena engkau pernah menjadi fatamorgana. Hatiku memang bermaksud menghampiri segera. Tapi jiwaku berteriak risau entah kenapa.

Engkau pernah menjadi mercusuar hidup ini. Senyum itu tak hilang dalam memori. Gairah kehidupanku menembus langit dan bumi. Ketika tanganmu tak pernah melepas lagi.

Sembunyimu tak seperti permainan masa kecil kita. Sore pun pulang berjalan dengan canda. Tapi kali ini berbeda. Engkau tak kunjung memunculkan diri hingga aku nestapa.

Setelah lama purnama Engkau kembali dan menyapa. Entah aku harus berbuat apa. Pikiranku tak ingin bekerja. Karena mungkin sudah tak ada rasa.

Bukan, bukan karena hatiku penuh kebencian. Engkau yang menyalahi aturan. Meninggalkanku dalam sunyi dan kehampaan. Bahkan saatku sadar pun seakan mimpi dalam keburukan.

Hilanglah... Mercusuar sudah lenyap hingga ku salah arah. Rasaku sudah punah. Bagiku Engkau tak lain hanyalah arwah.